Literatur

Memuja Kawan Menista Lawan

Published

on

Oleh: Kanda Ocit Abdurrosyid Siddiq (Alumni MTs Mathla’ul Anwar Binuangeun – Komisioner Bawaslu Banten)

Pemilihan Umum atau , juga Pemilihan Kepala Daerah atau , kerap disebut sebagai pesta demokrasi. Karena pesta, mestinya ia menggembirakan, juga membahagiakan.

Walau disebut pesta, alih-alih menggembirakan dan membahagiakan, malah tak jarang menjadi polemik, konflik, perpecahan, permusuhan, dan kerusuhan.

Pemenang dalam dan adalah yang mendapat dukungan suara terbanyak. Untuk mendapat suara banyak, butuh usaha, kerja keras, tenaga, pikiran, jaringan, dan tentu saja pembiayaan.

Dalam merebut simpati para pendukung, para peserta diberikan waktu dan kesempatan untuk berkampanye. Mengenalkan visi dan misi, serta program yang akan dilaksanakan ketika terpilih.

Kampanye diatur sedemikian rupa, agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik, tertib, dan tidak menjadi masalah. Seperti menggangu ketertiban dan menyerang harkat, derajat, dan martabat orang lain.

Kampanye yang baik, dengan cara menyampaikan ide, gagasan, dan program yang baik. Program yang menyangkut perbaikan hajat hidup. Kampanye, menjadi media baginya untuk dipilih para pemilik suara.

Baca Juga:  Hikmah Dibalik Bacaan Solat

Kampanye yang baik, selain menawarkan program serta keunggulan diri, juga tidak menyertainya dengan menjelekan dan menyerang peserta lain. Tindakan ini bisa masuk kategori kampanye negatif atau kampanye hitam.

Kampanye negatif adalah mengorek kekurangan, kelemahan, kesalahan, kekeliruan peserta lain dengan disertai bukti. Sementara kampanye hitam adalah tindakan itu tidak disertai bukti.

Cara kampanye keduanya tidak baik. Daripada sibuk mencari celah lemah dan salah orang lain, lebih baik menampilkan citra positif diri sendiri. Apalagi bila menuduh tanpa bukti. Jatuhnya fitnah.

Seperti halnya belakangan ini. Masa kampanye untuk dan 2024 masih jauh, masih lama. Tapi, pasca pendeklarasian bakal calon Presiden 2024 oleh salah satu partai politik, suasana kampanye sudah sangat terasa.

Tak ada larangan untuk mendukung, menyanjung, memuji, memuja, bahkan menjilat, atas prestasi, capaian, keberhasilan, serta keunggulan yang dimiliki oleh bakal calon yang anda dukung.

Tapi jangan menyertainya dengan celetuk, celoteh, cemooh, tuduhan, serta narasi yang mendiskreditkan peserta lain. Angkat bakal calon yang anda dukung setinggi langit. Tapi jangan menyertainya dengan _meréngkas_ orang lain.

Silakan masing-masing _fastabiqul khoirot,_ berlomba menjadi yang terbaik, didorong oleh niat yang baik, dengan cara yang baik, untuk mewujudkan kebaikan. Terlalu fokus pada kekurangan orang lain, lalu lupa pada keunggulan sendiri, itu bukan kampanye yang baik.

Baca Juga:  Pencarian Identitas Diri sebagai Tugas Perkembangan Psikososial Remaja dan Pentingnya Remaja dalam Menanamkan Nilai Keislaman

Anda mendukung Anis, sokonglah dia. Anda pendukung Ganjar, angkatlah dia. Anda pemuja Puan, pujilah dia. Anda pengagum Prabowo, sanjunglah dia. Tapi tak perlu menyertainya dengan tudingan dan nyinyiran pada bakal calon lain. Itu baru sehat, itu baru jantan. Itulah _fastabiqul khoirot._

Dalam kampanye ada kompetisi. Dalam kompetisi ada persaingan. Dalam persaingan kadang melakukan perbuatan culas, curang, dan melanggar aturan. Itulah mengapa mesti ada pihak yang punya otoritas untuk mengawasi, mencegah, bahkan menindak.

Saya menulis begini, karena anda berkomentar begitu. Saya melihat, anda terlalu ke kanan. Makanya saya ajak anda kembali ke tengah. Tapi jangan pula anda menuduh saya, sedang mengajak anda ke kiri.

Bahwa berbeda pendapat adalah biasa, itu benar. Tapi bila saya berbeda, lantas dimaknai membela, engké heula! Kan saya mah penyelengara. Ngarti nyah, Ka!
😀😀
***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending