Literatur

Patah Tumbuh Hilang Berganti

Published

on

Oleh: Kanda Irkham Magfuri Jamas, Ketua Umum MPO Cabang Serang 22’23

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang membuatku menangis, bukan kalian yang membuatku tertawa. Hari demi hari terus berganti, tak terasa waktu menyelimuti masa muda kita dan beranjak menjadi sosok yang lebih dewasa. Kedewasaan mental, sikap dan perilaku yang semua itu ditempa hari demi harinya dengan benturan masalah dan tantangan hingga membentuk karakter kita masing-masing.

Ada yang terbentuk menjadi pemalas sebab ia selalu kalah dengan rasa malas yang membenturnya, ada yang menjadi sosok pendobrak karena keadaan yang selalu memaksanya membuat dobrakan, ada yang menjadi pengecut sebab kekalahannya pada situasi dan keadaan, ada juga mereka yang menjadi pejuang sebab ketangguhannya melawan situasi dan keadaan, ada yang menjadi bijak, arif, berilmu dsb. Yang mana itu semua pasti buah dari sikap dan pengalaman kehidupan yang diarunginya.
Peribahasa lama mengatakan, “Terbentur, terbentur, terbentur lalu terbentuk.”

Pertanyaan besar untuk pembaca sekalian, akan kau bentuk seperti apa dirimu? Apakah pejuang? Atau pecundang? Apakah pemalas? Atau pendobrak? Apakah si Bodoh? Atau si Bijak? Semua jawaban itu ku kembalikan lagi padamu. Ya, kamu yang saat ini mungkin sedang terenung dalam sanubari.

TIAP MASA ADA ORANGNYA DAN TIAP ORANG ADA MASANYA

Sudah sepatutnya generasi ke generasi menjadi lebih baik lagi. Pemuda harus terbiasa menawarkan diri pada medan-medan perjuangan, bukan malah lari dari suatu amanah dan tanggung jawab. Tanda kemunduran generasi adalah bilamana sudah terlihat generasi yang tak memiliki ghiroh seorang pendobrak dan pejuang, mereka yang takut bercucur air mata sebab bertahan mengemban amanah, mereka yang takut berlelah-lelah dalam berjuang di jalan Allah dan mereka yang lebih suka melakukan hal yang sia-sia bahkan parahnya adalah kemaksiatan. Itu semua merupakan ciri kemunduran peradaban.
Sesungguhnya mubazir merupakan perilaku setan.

إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra: 27).

Islam mengajarkan bagaimana seorang muslim tak boleh menjadi pribadi yang pemboros. Mungkin kita pernah mendapat nasihat orang tua terdahulu tentang makanan yang harus dihabiskan. Perhatikanlah! makanan saja, sebutir nasi saja tak boleh disia-siakan. MasyaAllah.

Tapi umat Islam lupa, ada hal besar yang seringkali disia-siakan. Yakni umurnya, masa mudanya. Betapa banyak anak muda yang melakukan pemborosan terhadap umurnya, padahal masa muda di dunia akan segera berlalu dan takkan pernah kembali. Betapa banyak mereka melakukan perbuatan sia-sia. Alih-alih mempersiapkan diri menuju hari tua dan hari kemudian, anak muda banyak terbelenggu pada hal-hal tak berguna dan parahnya sampai merusak hidup dan masa depannya.

Baca Juga:  Hubungan Kematian dengan Manusia (Menurut Louis Leahy)

Maka pesanku teruntuk kalian pemuda. Marilah kita berlelah-lelah di Jalan Allah untuk amar ma’ruf nahi munkar. Karena usia kita adalah usia kekuatan yang berada di antara dua kelemahan. Marilah kita berlelah-lelah memerangi kebatilan dan mewujudkan kemaslahatan, karena perubahan terjadi dan diemban pundak pemudanya.

Dan marilah kita terus bersemangat pada kebaikan karena Allah. Kemudian, menginfakkan harta, jiwa dan raga untuk mewujudkannya. Sebab mereka orang-orang kafir dan fasik pun berlelah-lelah pada kekafiran dan kefasikannya melawan orang-orang beriman. Hanya bedanya, kita mengharapkan rahmat dan ampunan Allah, sedangkan mereka tidak.

Jika kau lelah, letih, capek. Sama! Mereka pun lelah, letih, capek, bahkan melebihi yang kalian rasakan. Jika kau merasa ditinggalkan, ingatlah Allah dan bala tentara-Nya selalu menolong orang-orang yang beriman. Sebagaimana janji-Nya pada QS. Rum ayat 47.

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ…

“…Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. Rum:47).

Tidakkah cukup janji Allah tersebut?Masih takutkah engkau, padahal Allah telah menjaga dan menolongmu?
Ingatlah, bila mereka yang dahulu berjuang bersama meniggalkanmu, bila Allah ambil mereka dari sisimu, sungguh apa yang Allah ambil adalah yang terbaik. Sebab apa yang Allah beri adalah lebih banyak dari apa yang Allah ambil. Pepatah lama mengatakan
.
Itu bermakna, apa-apa yang Allah ambil darimu akan Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik, sebab tak ada yang abadi kecuali Allah; Dzat yang awal dan yang akhir.

Tidak ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah kawan, bukankah kau merindukan kenikmatan itu kawan? Bukankah kau merindukan ketenangan itu kawan? Lihatlah dirimu! Kau sudah sampai sejauh ini,kau terbukti mampu bertahan melawan kerasnya dunia, bahkan kau sudah sampai sejauh ini membaca torehan aksara dari sang penulis yang berusaha memberikan semangat kepadamu.

Ternyata kamu kuat, ku tahu itu. Sesekali mungkin kau tersesat dan hilang arah, tapi lihat lah bagaimana Allah kembalikan lagi kau pada jalan yang lurus. Sesuai permohonanmu saat kau sembahyang.

Baca Juga:  Hari Ibu: Menilik Ulang Makna 'Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu'

Ihdinasshiratalmustaqim

Tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Lihatlah bagaimana Allah mengabulkan doamu itu, Allah berikan padamu jalan yang lurus. Masih kah kau akan berpaling lagi dari jalan itu?
Sesekali kau melampaui batas dalam berbuat. Tapi lagi-lagi lihatlah Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang itu. Yang mana sifat kasih dan sayangnya senantiasa kau sebut-sebut dengan kerinduan mendalam dalam sholatmu dan setiap awal amalmu.

Bissmillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lihatlah bagaimana Allah memaklumkan dan memaafkanmu.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar:53).

SIAPA YANG MENANAM MAKA AKAN MENUAI

Isak haru menderu dalam hati, tatkala mengingat betapa pemurahnya Ilahi Rabbi. Rasa tangis sedih dan pilu yang menghantui, perlahan terobati bersama hadirnya nikmat syahdu perjuangan yang telah dilewati. Tak ada lagi yang dapat menyangkal nikmat dari sebuah perjuangan bagi para pejuang. Sungguh dalam tiap perjuangan pasti ada kerinduan. Sebab tak mungkin seorang petani menanam padi dan tak mungkin seorang ibu menyusui anaknya bila tak ada cita-cita, bila tak ada asa.

Sebagai pesan penutup, izinkan ku menyuguhkan sebuah syair untuk mengenang perjuangan yang telah kita lewati sampai sejauh ini. Dan membakar semangat, bahwa selama Allah bersama kita maka tak perlu ada risau di dada.

Mata tak kunjung terpejam saat gelap malam datang
Memikirkan persoalan yang terjadi atau tak terjadi
Wasapadalah terhadap rasa khawatir yang berlebihan pada diri
Sebab karenanya dapat membuatmu menggila
Sesungguhnya Rabb-mu lah yang melindungimu
Melindungimu sejak dahulu
Dan tetap melindungimu di hari esok apapun yang terjadi
Dari semua perjuangan itu, akhirnya kita sadari bahwa akhir perjuangan hanyalah air mata
Air mata yang mengalir ketika mengingat kilas balik syahdunya perjuangan saat bersama.
Maka sungguh, hanyalah engkau wahai sahabat yang dapat membuat air mata terjatuh dari pipi.

Maka benar adanya bahwa:

“Sahabatmu adalah yang membuatmu menangis, bukan yang membuatmu tertawa.”

YAKIN USAHA SAMPAI

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending