 |
Source Image : projectopini.wordpress.com |
Desir angin terdengar iba, bercampur dengan bau tanah tersiram hujan yang bersatu dengan udara. Burung dara, terbang bebas ke angkasa, lama tak hinggap. Sebab ia tahu, bahwa dunia, tak lagi ramah dan penuh dusta.
Di ujung sana terdengar sebuah kisah, dari seorang wanita desa, yang hidupnya nestapa, sebab tiada kasih yang ia terima, melainkan hanya berupa penindasan belaka.
Luka-luka, bukan hanya berbekas di jasad, melainkan menggoreskan nya pada jiwa, yang tak tahu apa-apa. Meninggalkan sebuah luka, yang berbekas jauh ke dalam lubuk hati yang berbuahkan benci dan dendam
Sebut saja ia dengan nama Tuti Sakinah, wanita desa penuh lugu wajahnya, paras biasa, kisah hidupnya yang keras, tak seindah dan se-tenteram dari namanya.
Dalam batinnya ia merasa tertindas, terpaksa dan juga selalu terkungkung dalam pasungan patriarki. Segala macam telah diusahakan, segala upaya dia lakukan, namun apalah daya, sebab wanita bukanlah yang utama, jika wanita melawan itu artinya ia durhaka, dan masuk dalam kubangan durjana.
1995, tepat di waktu itu, ia menjalin kasih, mengeratkan ikatan suci. Antara dua insan yang saling berucap janji. Bahwa akan sehidup dan semati. Mengusahakan menepati segala janji, yang terlanjur terucap dari dalam hati.
1996, penantian ini berakhir, terlahir lah seorang bayi lelaki. Harapan dan juga punjangga hati. Pelipur duka dan lara, pengobat kerasnya tekanan hidup ini. Meski nyatanya, tekanan hidup tak jua berhenti.
1997 hingga kini, sedikit cinta, banyak duka. Perih nya hidup menambah luka, ingin mati ia rasa, sebab jiwa tak kuasa, menerima segala macam caci dan hina. Apalah guna bila hidup terus-terusan tertindas, tertekan dan terpaksa, bila merdeka saja tak punya, bila kuasa tak ada?
Namun…
Syukur Tuhan, kau masih suka pada hamba nya yang selalu melantunkan doa-doa, sebagai bentuk pengharapan dan pengakuan, bahwa hamba adalah lemah adanya.
Namun Tuti, kau haruslah tetap bergerak ke muka, hilangkan segala arang yang menghadang. Sebab melawan adalah hak segala umat termasuk wanita, yang kini hidupnya terpasung oleh konsep masyarakat yang patriarki. Sebab hidup bukan hanya miliki lelaki.
Tuti, jika kau tak melawan, itu sama artinya kau membiarkan diri dalam sekap pasungan, sebab tak ada perlawanan. Karena merdeka, kau juga punyak hak.
Tuti, jika kini kau tak melawan, dan menghapuskan paham kolot itu, entah kini ataupun esok, hidup mu dan juga hidup wanita-wanita lain, akan terus tersiksa, dan batin akan terus meraung serta jiwa akan terus tertekan. Lalu perbudakan akan beranak-pinak, dan penindasan akan tetap tumbuh dan lestari.
Tuti akan melawan, dan memutus rantai perbudakan, sebab hidupnya wanita, bukan hanya urusan dapur dan ranjang belaka. []
Oleh : Taufiqs
(Tulisan ini pernah terbit di : https://projectopini.wordpress.com)